Anyaman Nggobe dan Harapan yang Tak Pernah Lepas

Sebuah feature karya: Gabriela Gracia Lasdin (Bela)

Fajar bahkan belum benar-benar pecah di Paundoa, tetapi Anastasia Iwe sudah duduk di depan rumahnya. Udara dingin masih menggigit, kabut tipis masih menggantung di pelataran. Dipangkuannya, daun Koli yang kaku perlahan dilenturkan oleh jemarinya yang mulai menua. Suara gesekan halus terdengar saat anyaman dirapatkan. Dari sana Nggobe ( Topi Adat Rongga) tumbuh sedikit demi sedikit seperti hidupnya. Hidup yang pernah hampir runtuh sejak ia ditinggal suaminya, namun tetap ia bangun demi anak- anaknya.

Anastasia Iwe (56), perempuan asal kampung Paundoa, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba telah lama dikenal sebagai pengrajin   Keterampilan itu diwarisinya dari sang ibu. Namun sejak kepergian suaminya pada tahun 2011, anyaman itu bukan lagi sekadar tradisi, melainkan menjadi salah satu penopang hidup bagi dirinya dan kelima anaknya.

Hari kepergian suaminya itu menjadi garis batas yang membelah hidupnya. Dulu, ia hanya menganyam sesekali sekadar mengisi waktu luang. Seiring waktu, jarinya tak lagi sekadar untuk bergerak, melainkan menenun harapan dan mengubah anyaman menjadi salah satu sumber penghidupan.
” Waktu itu, saya benar-benar tidak tahu harus buat apa. Sementara anak-anak masih kecil. Jadi saya tidak boleh jatuh lama- lama,” ucapnya pelan suaranya nyaris hilang di ujung kalimat.
Ia ingat betul hari- hari pertama setelah kehilangan itu. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada lagi tempat berbagi beban. Hanya dirinya sendiri dan kelima anaknya yang harus tetap makan dan tumbuh.

Malam-malam pertama setelah kehilangan itu adalah malam yang paling panjang. Ia pernah duduk sendiri di beranda, menatap gelap tanpa tahu harus memulainya dari mana. Di dalam rumah anak-anaknya tertidur tanpa banyak tanya, sementara ia menahan air mata agar tidak jatuh terlalu deras.
” Saya sempat berpikir bagaimana kalau saya tidak sanggup, anak-anak tidak boleh kehilangan saya juga, ” katanya lirih.

Ia kembali ke beranda, tempat dimana tangannya mencari pegangan pada daun Koli. Daun yang dijemur sehari sebelumnya itu tampak pucat kekuningan, kaku saat disentuh, lalu ia melenturkannya perlahan dan mulai menyusun satu per satu. Tangannya bergerak hati-hati, sesekali memperbaiki simpul yang kurang rapi, lalu melanjutkannya lagi.
Gerakan yang sama dan berulang, sama seperti menahan dirinya agar tidak ikut runtuh.
Selain menganyam, Anastasia juga bekerja di kebun. Pagi ia ke ladang, siang atau sore ia kembali ke beranda untuk melanjutkan anyamannya. Tubuhnya sering lelah, bahkan sampai jatuh sakit, namun ia tidak benar-benar berhenti.
” Kalau saya berhenti anak-anak juga ikut susah.” Katanya singkat.
Ada hari-hari ketika tangannya gemetar menahan lelah, ada hari-hari ketika tubuhnya memaksa untuk istirahat namun pikirannya tidak mengizinkan. Ia memilih untuk tetap duduk melanjutkan anyamannya meski perlahan. Hasil penjualan Nggobe memang tidak selalu cukup tapi dari situlah ia bertahan.

Perlahan, waktu mengubah segalanya anak-anak yang dulu ia gendong kini tumbuh dewasa. Sebagian sudah berkeluarga menjalani hidup mereka masing-masing dan sebagiannya lagi masih setia menemaninya di hari tua.
Salah satu anaknya mengenang masa itu dengan suara bergetar:
” Ibu, tidak pernah diam. Sakit pun tetap kerja. Kami lihat semuanya itu dari dekat. Dulu kami tidak punya apa-apa, tapi ibu tidak pernah tinggalkan kami,” Katanya penuh kagum.
Kini hasil dari perjuangan itu tampak nyata, bukan dalam bentuk kemewahan tetapi dalam kehidupan anak-anaknya yang terus berjalan.

Sore jatuh perlahan di Paundoa, membawa cahaya yang sejak tadi setia menyinari. Langit menguning tembaga dan bayang-bayang memanjang di sekitar tempat Anastasia duduk menganyam. Jemarinya bergerak lebih lambat dari dulu, tetapi tetap pasti. Dari setiap simpul yang ia rapikan, tersimpan cerita yang tidak semua orang lihat, tentang perjuangan seorang ibu yang tidak punya pilihan lain selain bertahan.
Dari jemarinya yang tak pernah benar-benar berhenti, Anastasia tidak hanya sekadar menganyam Nggobe tetapi ia sedang merawat tradisi dan memenun harapan bagi kehidupan keluarga.
Dari setiap tetes keringatnya, ia menyimpan harapan kecil. Ia berharap salah satu dari anaknya bisa mengikuti jejak ibunya sebagai pengrajin Nggobe.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *