GURU DAN TANTANGAN PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS PERANGKAT

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sangatlah pesat, hal ini seiring dengan  desain Pendidikan Nasional melalui kurikulum yang disusun, dikaji dan ditetapkan  pemerintah. Kurikulum mengalami evolusi dari masa ke masa, seiring dengan perkembangan zaman. Kurikulum dipandang sebagai landasaan pijak bagi terselenggaranya proses pendidikan yang baik dan berkualitas. Kurikulum dikelompokan dalam dua kategori yakni Kurikulum Nasional (umum) dan kurikulum bermuatan lokal (sepesifik). Kurikulum Nasional beralaku secara menyeluruh  dan wajib untuk dilksanakan pada semua Satuan Pendidikan. Sedangkan kurikulum bermuatan lokal (MULOK) disesuaiakan dengan karakter daerah atau kearifan lokal masyarakat di daerah.

Pengimplementasian kurikulum disesuaikan dengan jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, Menengah, maupun perguruan Tinggi.  Rujukan kurikulum disesuaikan dengan  usia dan kemampuan  peserta didik secara berjenjang. Hal ini menjadi penting untuk tidak terjadinya lompatan cara berpikir peserta didik. Di satu sisi implementasi kurikulum dilaksanakan sesuai dengan program dan kecepatan kemampuan peserta didik, sementara tingkat kecepatan atau akselerasi peserta didik berbeda beda. Kondisi ini menjadi kesulitan tersendiri bagi guru. Peserta didik yang memiliki kecepatan berpikir dalam membaca, menulis, dan berhitung memberikan kemudahan bagi guru tetapi peserta didik yang lamban dalam proses  berpikir membutuhkan pendekatan pembelajaran yang lebih intens dari guru. Walau demikian tugas guru  sebagai pendidik dan pengajar  tetap diaksanakan sesuai amat Undang Undang dan Peraturan Menteri dan Peraturan Perundangan lainnya, yakni  bertujuan  mencerdaskan kehidupan bangsa.

Terselenggaranya implementasi kurikulum diturunkan dalam Perangkat Pembelajaran dan sudah diatur sedemikian rupa, Capaian Pembelajaran sudah dirumuskan Pemerintah. Sedangkan satuan pendidikan memiliki posisi tawar untuk merancang Tujuan Pembelajaran, memilih pendekatan Pembelajaran dan Metode Pembelajaran, serta merangkum Materi Pembelajan kedalam modul ajar. Dalam hal ini guru berperan penting untuk menyusun perangkat pembajaran sesuai CP dan TP yang sudah diturunkan pemerintah. Pengembangan kompetensi guru dapat dilakukan dalam Ruang diskusi  melalui IHT, WORKSHOP, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran di komunitas belajar. Ruang kolaborasi bagi guru sangat dimungkinkan untuk memperkaya ide/gagasan dalam merumus, meilih metode dan model pendekatan pembelajaran. Pendekatan Deeplearning, desain pembelajaran yang berkesadaran, bermakna dan menggembirakan, dapat diramu guru menjadi  perangkat pembelajaran yang menyenangkan bagi peserta didik.

Dibalik kemudahan guru menyusun perangkat pembelajaran, satu hal yang tidak bisa dihindari guru  harus memiliki kesiapan teknologi dan  tersedianya infrastruktur berupa sarana dan prasarana. Karena sejatinya  sebaik apapun langkah- langkah dalam perangkat pembelajaran jika kesiapan teknologi seperti komputer,laptop,Lcd dan IFP  dan Sumber Daya Manusia tidak cukup siap untuk memanfaatkan sarana teknologi  justru menjadi tantangan tersendiri  bagi guru dalam pembelajaran berbasis perangkat. Dalam konteks pendidikan yang lebih mengedepakan pemanfaatan sarana dan prasarana teknologi, mau tidak mau, suka tidak suka,  guru harus memiliki kemaun  dan kemampuan untuk menyesuaikan diri, beradaptasi dengan teknologi sehingga ada keseimbangan antara kemampuan digital peserta didik seperti pemanfaatan gadged dan android dengan kemampuan digital guru. Kemampuan digital guru membantu kelancaran proses belajar mengajar, pembelajaran dapat dilaksanakan tepat waktu, sesuai dengan tujuan pembelajaran dan juga mampu mengukur efektifitas belajar mengajar mulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan berakhir pada asesmen pembelajaran. Kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan baik, lebih menarik, bermakna, dan berkesadaran.

Tantangan pembelajaran berbasis perangkat merupakan hal yang tidak bisa dihindari, tetapi harus bisa dihadapi sebagai konsekensi  tugas dan panggilan profesi. Peran guru dalam pembelajaran berbasis perangkat menjadikan guru lebih tertantang untuk dapat berkembang di bawah tekanan yang menjadi keharusan bagi guru dalam membuat  perangkat  atau administrasi pembelajaran sehinggga dapat mempersiapakan materi ajar dengan baik. Pembealajaran berbasis digital melalui platform belajar juga mengaharuskankan guru mempersiapkan pembelajaran berbasis teknologi  sehingga membantu guru dalam melaksanakan proses bealajar mengajar di kelas . Menjadi pertanyaan refleksi  sudahkah  bapak dan ibu guru medisain pembelajaran berbasis perangkat? Sudahkah bapak dan ibu guru mendesain pembelajaran berbasis teknologi? Bagi saya, pertanyaan refleksi ini penting  untuk mengidentifikasi  dan menganalisis  tantangan guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis perangkat serta menawarkan strategi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis perangkat.

Tantangan Guru dalam Pembelajaran Berbasis Perangkat

Menjadi guru bagi banyak orang mungkin dianggap mudah tetapi pada hakikatnya  menjadi guru tidaklah mudah, tidak gampang seperti membalikan telapak tangan. Guru harus memiliki basic/dasar pengetahuan yang terspesialisasi melalui mata pelajaran yang diampuh, spesfikasi yang melekat pada gelar guru mengahantarnya sampai pada profesi yang menantang dan menuntutnya bekerja secara professional dalam tugas dan pelayanan kepada peserta didik. Terlepas dari sisi lain, guru tetaplah guru yang memiliki tugas utama sebagai pendidik dan pengajar. Dua  tugas utama ini ibarat dua sisi mata uang yang memiliki fungsi dan kegunaan satu sama lain. Sebagai pendidik guru membimbing dan mengajar peserta didik, yakni berbagi pengetahuan kepada peserta didik, memberikan arahan dan dukungan, mengidentifikasi  kebutuhan dan potensi siswa serta membantu siswa mencapai tujuan akademik dan berkpribadian baik. Membimbing peserta didik di dalam kelas harus sesuai dengan alur pembelajaran  dan tergambarkan di dalam  satu kesatuan perangkat ajar atau RPP yang disusun guru. Membimbing siswa dalam proses pembelajaran di kelas seyogyanya, guru harus mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa, memberikan strategi belajar yang efektif, memantau kemajuan dan memberikan umpan balik dan mendorong siswa untuk aktif dan mandiri dalam belajar. Guru sebagai fasilitator bisa memfasilitasi peserta didik karena sesungguhnya pembelajaran itu berpusat pada peserta didik. Guru dalam konteks mengajar sedapat mungkin  merencanakan pembelajaran berbasis perangkat, menyiapkan materi ajar sesuai dengan Capaian Pembelajaran,Tujuan Pembelajaran dan Materi ajar yang tertera di dalam perangkat pembelajaran. Guru yang memiliki landasan mengajar sesuai pembelajaran berbasis perangkat pasti dapat menyampaikan materi dengan efektif, serta dapat mengelola kelas dan menciptkan lingkungan belajar yang kondusif, dapat menilai dan memberikan umpan balik pada hasil belajar siswa. Apabila guru memiliki kemampuan untuk menyiapakn pembelajaran berbasis perangkat, maka profesi dan panggilan tugas sebagai guru  adalah profesi yang menyenangkan, menantang dan menggembirakan. Tantangan  pembelajaran berbasis perangkat sebagai sebuah tantangan yang bisa berubah menjadi peluang untuk semakin lebih professional.

Guru dengan tantangan baru di era digital sesungguhnya  menjadi tantangan tersendiri. Guru harus memiliki  kesiapan teknologi dan infrastruktur, hal ini perlu disikapi  secara serius di dunia pendidikan. Guru harus memiliki kecakapan teknologi kalau tidak mau dibilang gagap teknologi. Suatu keniscayaan bagi  guru  jika merasa saat ini sudah berada pada zona nyamannya sendiri, bermain dengan rasa nyaman sendiri sementara kemajuan pendidkan seiring sejalan dengan kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi memudahkan guru  dalam mengakses sejumlah informasi pengetahuan dan update perkembangan zaman tetapi tidak untuk mencari gampang sendiri atau bermental instan sambil  berkolaborasi   dengan bantuan Google, Meta AI ,Chat GPT. Tantangan serius inilah menjadi starting point bagi guru untuk mendisaian pembelajaran berbasis perangkat yang syarat akan pengetahuan sahih, realibel dan validitas   disatupadukan melalui pemebelajaran berbasis perangkat. Guru modern sedapat mungkin tidak” kurus “atau” kering bahkan “tandus pengetahuan” dan bahkan dangkal atas pemahaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekonologi yang terus berubah.

Guru yang hebat tergambar dari kemampuannya melakukan adaptasi metode pengajaran yang efektif. Guru harus merubah peran dari nara sumber menjadi fasilitator pembelajaran di kelas. Guru dengan performa baru menjadi fasilitator pembelajaran, dalam konteks ini kecakapan guru dalam meramu pembelajaran sangat dibutuhkan sehingga selama proses belajar mengajar suasana kelas lebih menyenangkan, pelajaran lebih menarik dan tidak membosankan bagi peserta didik. Analoginya guru seperti pemilik restoran meracik bumbu masakan agar pengunjuang  selalu merasa terpuaskan. Guru dengan analogi ini adalah guru yang benar- benar  mempersiapkan bahan ajarnya secara lebih menarik sehingga peserta didik selalu ingin, lagi dan lagi mempelajari materi yang diajarkan guru. Ada korelasi dan sinergi positif antara guru dengan  kesiapan teknologi dengan kecakapan guru dalam meramu materi ajar  yang didukung dan kesiapan dan respon positif peserta didik.

Guru tidak sekadar hebat dalam meramu dan mendesain pelajaran dengan lebih menarik, tetapi guru juga dituntut untuk mengatasi kesenjangan akses siswa misalnya menyediakan sumber daya tambahan untuk siswa yang kurang akses, menggunakan teknologi yang yang lebih inklusif dan mudah diakses. Guru dalam kapasistasnya  sebagai pengajar dan pendidik selalu menyiapkan materi ajar dalam pembelajaran yang lebih fleksibel, lebih hidup dan dapat diakses  dari berbagai perangkat, pengandaiannya guru memiliki kecakapan teknologi yang cukup dan hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Kemampuan guru dalam melakukan kolaborasi dengan orang tua dan komunitas dapat  mendukung akses belajar siswa lebih baik, lebih terukur, terpantau dan menyenangkan.

Dampak Tantangan terhadap Proses Pembelajaran

Kehadirann guru dalam proses belajar mengajar di kelas merupakan implentasi dari komitmen dan integritas serta akuntabilitas terhadap profesi yang dimiliki. Guru tidak hanya “menang”selogan untuk diguguh dan ditiru tetapi lebih dari itu guru harus memilki komitmen dan tanggungjawab. Sebagai pendidik dan pengajar di sekolah guru harus memiliki kualitas pembelajaran yang akan berpengaruh langsung bagi  siswa. Guru harus menunjukan kualitas secara akademik dalam meramu materi dan medesain materi pelajaran yang berpedoman pada pembelajaran yang berbasis perangkat. Sehubungan dengan perangkat pembelajaran, guru harus memiliki kompetensi akademik yang maksimal dan profesional dibidang tugas. Guru harus memilki cukup pengetahuan dalam mempersiapkan pembelajaran yakni  mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajrana dengan baik dan sesuai standar pembelajaran, karena hanya dengan demikian guru bisa lebih maksimal dalam memberikan layanan pendidikan. Beberapa hal penting dari kualitas pembelajaran yang berpengaruh dan membawa dampak terhadap proses pembelajaran, Pertama,Kritis dan Analitis, seorang guru yang hebat mampu menganalisis informasi, mengidentifikasi pola, dan membuat keputusan berdasarkan data. Kedua, Kreativitas dan Inovasi, guru harus mampu berpikir kreatif, mengembangkan ide baru, dan menemukan solusi inovatif. Ketiga, Komunikasi Efektif, seorang guru mampu menyampaikan ide dan gagasan dengan jelas, baik secara lisan dan tulisan. Keempat, Kerja Sama Tim, guru mampu bekerja sama dengan orang lain, selalu menghargai perbedaan dan selalu berorientasi pada tujuan bersama. Kelima, adaptabiitas dan fleksibilitas, disini guru mampu menyesuaikan diri dengan perubahan, menghadapi tantangan dan mencari solusi. Keenam, Kemandirian dan motivasi guru mampu mengatur diri sendiri, menetapkan tujuan, dan mencapai hasil yang diinginkan dan Keenam Pemecahan Masalah, guru mampu mengidentifikasi masalah, menganalisis dan menemukan solusi yang efektif.

Tantangan cukup serius pada peserta didik saat ini yakni menurunnya motivasi. Hal ini dapat menyita energi berpikir  bagi para guru untuk mendesain pembelajaran berbasis perangkat guna  meminimalisir menurunnya motivasi siswa karena kurangnya tujuan yang jelas. Siswa tidak memiliki tujuan yang jelas atau tidak tahu apa yang dicapai. Peran guru membantu siswa untuk merumuskan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai, guru menyampaiakn capaian pembelajaran dan tujuan pembelajaran sebelum pembelajaran berlangsung sehingga guru dapat memberi gambaran terhadap materi yang diajarakan.

Dalam pembelajaran yang dinamis dan fleksibel, guru mutlak perlu melakukan umpan balik. Peserta didik yang tidak menerima umpan balik yang cukup akan merasakan situasi pembelajaran yang terkesan hambar dan cendrung tidak tahu meningkatkan diri. Oleh karena itu, guru bisa mendesain pembealajarn dengan melakukan assmen diagnostik dengan mengajukan pertanyaan pemantik atau pertanyaan yang dapat merangsang pemahaman peserta didik pada awal pertemuan. Sehingga guru dapat  mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi ajar yang akan disampaikan.

Lingkungan belajar  yang tidak mendukung juga menjadi alasan rendahnya motivasi peserta didik. Sekolah merupakan rumah kedua bagi peserta didik dalam memperoleh sosialisasi dan pengajaran selain keluarga. Lingkungan belajar menjadi faktor kunci  bagi terselenggaranya proses belajar mengajar selain sarana dan prasarana dan sumber belajar. Peran guru harus bisa meretas isolasi dan memutuskan mata rantai bahwa persoalan lingkungan belajar adalah persoalan sepele, tetapi menjadi persoalan yang perlu ditangani secara serius.

Selain lingkungan belajar kurangnya keterlibatan siswa dalam proses belajar menjadi salah satu alasan rendahnya motivasi siswa. Dalam konteks ini siswa tidak terlibat dalam proses belajar menagaja, tidak ada kesempatan bagi siswa untuk berpartisispasi atau tidak ada kegaiatan yang menarik. Hal ini sangat rentan terajadi ketika guru selalu merasa dirinya sebagai satu satunya nara sumber dalam kelas, dan peserta didik dianggap sebagai gelas kosong yang tidak terisi air, model dan pendekatan pembelajaran yang terkesan monoton menjadikan pembelajaran tidak menarik. Tantangan ini hanya bisa diatasi dengan guru memberi ruang yang cukup bagi peserta didik untuk membangun budaya diskusi atau pembelajaran prolem bassed learning atau model pendekatan pembelajaran yang kontekstual dengan menampilkan video pembelajaran yang sesuai dengan konteks materi, sehngga pembelajaran tidak terkesan konvensioanl kalau tidak mau dibilang konservatif.

Siswa merasa lebih diterima jika siswa mendapatkan perhatian, baik dari orang tua maupun guru. Di zaman ini siswa rentan  mengalami tekanan dan stres. Siswa dalam situasi tertekan bisa saja tidak maksimal dalam mengikuti pembelajaran secara lebih baik, secara fisik hadir di sekolah dan ada di dalam kelas tetapi pikiran dan konsentarasinnya di tempat lain, hal ini bisa saja terjadi karena situasi keluarga yang tidak mendukung, atau karena tidak suka dengan guru dan mata pelajaran tertentu atau bisa saja terjadi akibat dibuly oleh sesama siswa bahkan guru atau tekanan lainya. Tantangan guru dalam konteks ini guru harus menjadi oase yang menyejukan hati  bagi para peserta didik yang mengalami tekanan dan stres. Selain menjadi oase bagi peserta  didik, guru dalam pembelajaran di kelas  harus memberikan penghargaan,tidak harus berupa materi atau uang tetapi memberikan pengakuan atas prestasi mereka. Karena kurangnya penghargaan bagi peserta didik juga menjadi alasan rendahnya motivasi peserta didik.

Guru yang tidak inspiratif juga membawa dampak cukup besar dalam proses belajar mengajar.Pembelajaran yang terkesan hambar dan kering menyebabkan peserta didik mengalami kejenuhan.Efektivitas pembelajaran tidak maksimal dilakukan dan tidak mendapatkan respon positif peserta didik.Tidak tercapainya pembelajaran yang tidak efektif dan menyenagkan bagi peserta didik.Tantangan ini harus bisa disikapi guru dengan mengambil langkah perbaikann untuk membenahi perangkat pembelajaran yang lebih mengedepankan keterlibatan peserta didik.Pesera didik harus menjadi pusat pembelajaran dan guru menerapkan pembelajaran berbasis perangkat yang mendesain pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.Pendekatan pembelajaran yang bekesadaran,bermakna dan menggembirakan menjadi acuan dalam mendesain pembelajaran berbasis perangkat.

Strategi Mengatasi Tantangan

Tantangan guru dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis perangkat perlu diambil langkah strategi yang cocok dan kontekstual.Perlu disikapi dengan cermat dengan memperhatikan kekuatan dan kemudaham bagi guru untuk mengambil langkah strategi. Pertama ,pelatihan dan pengembangan profesi guru.Dalam melakukan pengembangan dan profesi guru sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama pelaksanaan pembelajaran berbasis perangkat.Pelatihan metode pengajaran melalui upaya peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan metode pengajaran yang efektif dan inovatif.Berbagai jaringan kompetensi guru baik melalui musyarawarah guru mata pelajaran,kerja sama guru dalam rumpun mata pelajaran dan maupun  kelompok kerja guru,hal ini selain bertujuan memperkuat jaringn kerja sama guru juga dapat meningkatkan kompetensi guru.

Kedua :Pelatihan Teknologi Pendidikan.Dalam konteks ini guru sebagai fasilitator pendidikan,perlu dilatih untuk membantu guru memanfaatkan teknologi untuk menimgkatkan proses belajar mengajar.Dengan teknologi pendidikan guru semakin dimudahkan dalam memberikan layanan terbaik  bagi terselenggaranya pembelajaran di kelas.Guru bersama  peserta didik melalui platform digital pembelajaran dan Platform Merdeka Mengajar bagi guru bisa mengunjungi PMM untuk memperkaya model dan teknik pendekatan pembelajaran dan dapat melakukan sharing praktik baik dalam PMM yang disalurkan melaui akun belajar id.

Ketiga Pelatiha Manajemen Kelas. Melalui budaya refleksi dan kolaborasi guru melakukan pelatihan manajemen kelas,bagaimana meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kelas dan menciptkan lingkungan belajar yang kondusif.Dalam melakukan pengembangan profesinya guru terus belajar untuk menggunakan berbagi ragam pendekatan serta mengidentifikasi model pendekatan yang sesuai dengan gaya belajar siswa.Bagi guru suatu keberhasilan apabila guru mampu mengidentifikasi gaya belajar siswa dan model pendekatan yang tepat.Masing- masing siswa memilki cara unik setiap siswa dalam menerima ,memproses,dan menginagt informasi.Bagaimana guru melakukan pendekatan dengan gaya belajar siswa dengan tipe visual,auditorial,kinestetik dan verbal.Dengan melihat gaya hidup belajar siswa guru dapat mengidentifikasi gaya belajar siswa sehingga dapat membantu guru dalam mengembangkan strategi pengajaran yang efekti.

Keempat,Pelatihan  Evaluasi dan Penilaian,dalam pengembangan profesi gurub,guru perlu melakukan pelatihan dan evaluasi.Hal ini dilakukan untuk dapat mengukur proses pembelajaran berlangsung.Asesmen baik asesmen diagnostic maupun asesmen sumatif  bertujuan untuk mengukur proses dan ketercapaian peserta didik sesuai dengan capaian pembelajaran.Selain evaluasi dan penilaian guru juga perlu melakukan pelatihan pengembangan kurikulum yang relevan dan efektif.

Pemanfaatan sumber  daya teknologi menjadi sangat penting bagi guru dalam meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan kurikulum yang relevan  dan efektif.Di zaman serba digital guru dituntut memiliki peran lebih dalam  menguasai teknologi dan pelbagai platform digital pembelajaran.Setidaknya menjadi sarana dalam mempermudah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik.Guru memiliki platform  merdeka mengajar yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang berbasis perangkat,mengakses sumber daya dan materi pembelajaran yang berkualitas.PMM juga dapat meningkatkan keterlibatan siswa sehingga pembelajaran lebih interaktif dan menarik dengan fitur- fitur yang ada di PMM,sekaligus memudahkan guru dalam mengelola kelas,membuat rencana pembelajaran berbasis perangkat serta dapat melakukan  evaluasi lebih mudah.

Keberhasilan pendidikan bukan saja menjadi tanggungjawab guru semata, akan tetapi menjadi tanggugjawab orangtua dan siswa. Melalui kolaborasi antara orang tua, guru dan siswa melalui proyek kelompok sehingga dapat memantau serta memberikan dukungan. Orang tua dan guru maupun sebaliknya dapat berkomunikasi aktif serta efektif melalui WhatsApp group orang tua dan guru. Kegiatan ekstra kurikuler yang melibatkan guru, siswa dan orangtua juga merupakan kolaborasi yang sinergis, seperti lomba, olahraga dan bakti sosial. Peran guru dan  orang tua sangatlah penting untuk bersama- sama memantau kegiatan siswa. Guru sebagai fasilitator pendidikan di sekolah mendisain pembelajaran berbasis perangkat sehingga dapat membantu guru dan memudahkan guru dalam melakukan proses pelayanan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing.

Saya dapat menyimpulkan bahwa guru dan tantangan pembelajaran berbasis perangkat selalu menjadi focus perhatian karena perubahan teknologi dan metode pembelajaran demikian cepat, kebutuhan siswa yang beragam meminta guru untuk bekerja keras dalam melakukan kolaborasi dan elaborasi bersama siswa dalam pembelajaran di kelas serta keterbatasan sumber daya menjadi titik start dan menjadi sumber kekuatan  bagi guru dalam membimbing dan menuntun peserta didik menjadi peserta didik yang berpengetahuan, berketerampilan  dan berkarakter baik. Oleh karena itu penting bagi pelaku pendidik, baik guru, orang tua, siswa  maupun steakholder pendidikan untuk selalu beradaptasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar dan menyiapkan  siswa untuk masa depan lebih baik.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *