Majalah Dinding

Tangan yang Menghidupi

Puisi karya: Gresiana Ojing Tangan kasar penuh cinta, menggenggam tanah, menanam benih kehidupan Setiap tetes keringatmu mencipta harapan dari ladang doa. Engkaulah petani, pahlawan tanpa tanda jasa, menjadi aliran kehidupan, penopang bangsa dari akar bumi. Kau bekerja tanpa henti, meramu pangan bagi negeri Mari kita haturkan terima kasih, sebab darimu,bangsa ini tetap berdiri,hidup, dan bersemi.

Tangan yang Menghidupi Read More »

Petani

Puisi Karya: Basilia Karlini Jehanul Saat fajar merekah di ufuk timur, kau terbangun dari lelapmu, melangkah ke ladang itulah tugas sucimu. Engkau setia merawat padi yang sebentar lagi menguning, bagai emas berkilau di pelukan bumi pertiwi. Kicau burung selalu menemanimu, angin sepoi menyapa wajahmu, meski peluh jatuh tiada henti, kau tak pernah mengenal menyerah. Kau

Petani Read More »

HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH

Puisi oleh: Bernadeta Jeli Hari pertama masuk sekolah, pagi merekah, hati pun cerah. Tas baru, sepatu bersih, semangat membuncah, menuju petualangan ilmu tanpa batas arah. Guru menyambut dengan senyum hangat, seperti mentari yang menyinari langkah. Teman baru, kisah pun bermula, persahabatan tumbuh di ruang yang ramah. Hari pertama masuk sekolah, adalah awal dari perjalanan panjang.

HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH Read More »

SATU BUMI

Puisi Karya: Aflina Nikendi Sejuta senyum merekah di tanah, Di bawah langit tanpa sekat warna. Laut bernyanyi, hati pun berbenah, Heningnya hidup, jiwa terlena. Tak peduli kidung pilu dilantunkan, Lelah terhisap dalam sunyi harapan. Tangis terpendam, ratap kediaman, Lentera alam usir kegelapan. Hidup bersemi dalam dekapmu erat, Tertekuk lutut saat kau membisu kuat. Merawat indah

SATU BUMI Read More »

BERJUTA MAKHLUK

Puisi karya: Maria Riniati Benge Datanglah engkau ke negeriku tercinta, berjuta makhluk tinggal di dalamnya. Masing-masing bersinar dalam jati dirinya, bersatu dalam harmoni semesta. Burung berkicau di langit yang lapang, ikan menari di lautan yang tenang. Pepohonan menjulang menjaga bumi, semua makhluk hidup dalam damai dan harmoni. Berjuta makhluk menyatu dengan alam, mewarnai negeri dalam

BERJUTA MAKHLUK Read More »

KAU DATANG SAAT AKU HAMPIR TUMBANG

Cerpen Oleh: Brigita Apolinaria Seonung, S.Pd Kabut masih mengendap di pucuk-pucuk daun, menggantung seperti bisikan rahasia yang belum sempat dibuka pagi. Burung-burung belum sepenuhnya terjaga dan suara angin masih pelan menyusup di antara sela-sela pohon tua. Di ujung jalan setapak itu, seorang anak laki-laki berjalan pelan, ranselnya menggantung lesu di bahunya yang mungil. Namanya Raka.

KAU DATANG SAAT AKU HAMPIR TUMBANG Read More »