Oleh: Clemens Ino, S.Pd
Tiga belas tahun adalah sebuah perjalanan panjang yang melintasi ruang dan waktu. Di bawah bayang-bayang Lereng Mbawa yang perkasa, mengikuti aliran sungai Wae Mbawu yang terus mengalir, SMAN 7 Kota Komba berdiri bukan sekadar sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai monumen cinta dan keteguhan hati. Bagi saya, yang turut merasakan napas pertama sekolah ini sejak 2012, kisah ini adalah tentang “Jerami Cinta”—sebuah pengabdian yang dimulai dari kesederhanaan namun memiliki ketahanan yang luar biasa.
Akar yang Menghujam: Ruang Tamu dan Mimpi Besar
Sejarah tidak boleh melupakan akarnya. Ingatan saya melayang kembali ke sebuah pertemuan krusial tahun 2012 di kediaman Bpk. Yeremias Anggal (Alm). Rumah itu, yang kini telah berubah fungsi menjadi rumah kontrakan, pernah menjadi rahim bagi lahirnya pendidikan menengah di Kelurahan Rongga Koe, Waerana.
Pertemuan itu difasilitasi oleh Bpk. Erasmus Jalang (Lurah Rongga Koe saat itu) yang kemudian dipercayakan menjadi Ketua Komite pertama. Kepanitiaan penerimaan siswa baru dinakhodai oleh Bpk. Bernadus Parung (Alm). Kehadiran seluruh tokoh masyarakat saat itu menjadi bukti bahwa sekolah ini lahir dari kerinduan kolektif masyarakat akan masa depan anak-anak mereka.
Pionir di Garis Depan: 47 Nama, 5 Guru Utama
Angkatan pertama kami berjumlah 47 orang. Mereka bukan remaja biasa; mereka adalah para pejuang hidup yang sebagian besar sudah bekerja sebagai tukang ojek atau buruh proyek. Kami, lima guru tetap pertama, memikul beban sejarah:
Bpk. Lukas Sumba, S.Fil (Kepala Sekolah pertama, kini Pengawas SMA).
Ibu Ifantiana Dasilfa, S.Pd (Setia mengabdi sampai sekarang).
Bpk. Viktor Ling, S.S (Kini di Dinas PPO Kab. Manggarai Timur).
Bpk. Clemens Ino, S.Pd (Penulis, mengabdi sampai sekarang).
Ibu Maria Elviana Rosa, S.Ag (Kini di SMPN 1 Kota Komba).
Keterbatasan tenaga pendidik saat itu dijembatani oleh ketulusan guru diperbantukan dari SMPK Rosa Mistika Waerana (Bpk. Bernadus Parung (Alm), Bpk. Rudolof Kawur, Bpk. Klemes Grembes, Bpk. Philipus Ado, Ibu Rosalia Nduok) dan SMP Satap Munde (Bpk. Marselinus Enggu yang kini Kabid SD, Bpk. Charles Arsima yang kini Kepala SMP di Borong, serta Bpk. Ignasius De Quirino).
Era “Nomaden” dan Gedung Pelupuh 2014
Selama lima tahun awal, kami adalah pengembara intelektual. Kami menumpang di gedung SDK Waerana 1, SDK Waerana 2, hingga Gedung Ratufabialo Paroki. Namun, momen paling heroik terjadi pada tahun 2014. Di atas tanah hasil tukar guling pemerintah dengan pihak Paroki, kami berinisiatif membangun gedung darurat.
“Jerami Cinta” itu nyata di sini. Sekolah kami berlantai tanah, berdinding bambu (pelupuh), dan beratapkan seng bekas. Di ruang kelas yang bersahaja itu, bau tanah saat hujan dan derit bambu saat angin kencang menjadi irama harian. Namun, di atas lantai tanah itulah, karakter para mantan buruh kasar dan tukang ojek ditempa menjadi pribadi yang bermartabat.
Perubahan dan Kehilangan yang Membekas
Tahun 2015, tongkat estafet kepemimpinan beralih kepada Bpk. Robertus Riser, S.Sos. Di bawah nakhoda beliau, sekolah terus berjuang hingga tahun 2018 kita mulai mendiami bangunan layak bantuan Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Namun, kemajuan ini dibayar dengan duka. Tiga rekan seperjuangan kami telah dipanggil Tuhan: Bpk. Yohanes Sina (Alm) dan Bpk. Antonius Jemalu (Alm). Kesedihan mendalam kami rasakan karena mereka pergi justru setelah sempat merasakan kenyamanan gedung baru. Mereka adalah pahlawan yang menyelesaikan tugasnya tepat saat badai telah berlalu.
Estafet Pengabdian: Dari Masa ke Masa
Hingga tahun 2026, SMAN 7 Kota Komba telah meluluskan 10 angkatan. Kekuatan kami kini bertumpu pada barisan pendidik yang datang silih berganti membawa warna. Ada yang telah pindah tugas seperti Bpk. Damasus Loni, Mario Hervins (wiraswasta), Maria Katarina Ina, Astionita Waru dan Elisabet Ninu.
Namun, barisan yang bertahan hingga kini adalah pilar-pilar kokoh: Ibu Anita Gonda, Bpk. Petrus Ndo, Ibu Pankrasia Sonya, Bpk. Vlavianus Daud, Bpk. Frans Hamin, Bpk. Donatus Mbaling, Bpk. Afridus Sendeleng, Bpk. Ronaldus Adipati Kunjung, Bpk. I Wayan Suarnata, Ibu Yuditha Belo, Ibu Yasinta Waku, Ibu Merciana Ati, Ibu Getrudis Daroja, Ibu Win Dalia Risan, Ibu Brigita Apolonaria, Ibu Sosefina Erlina, Bpk. Arnoldus Bota, Ibu Bonifasia M. Yungse, Ibu Yunita Niga, Ibu Emanuela, Ibu Rosalia Amuk, Bpk. Bruno Wangkung, Bpk. Flavianus Ndejeng, dan Ibu Ila Langada.
Penutup: Pengabdian adalah Doa
Melihat SMAN 7 Kota Komba hari ini adalah melihat keajaiban dari sebuah kebersamaan. Perjalanan dari rumah Bapak Yeremias ke gedung beton, dari lantai tanah menuju keramik, adalah bukti bahwa cinta yang tulus tidak akan pernah sia-sia.
Bagi saya, yang tetap berdiri di sini sejak hari pertama, sekolah ini bukan sekadar tempat kerja. Ia adalah rumah, sejarah, dan ibadah. Selama Wae Mbawu masih mengalir, semangat pengabdian di bawah Lereng Mbawa ini tidak akan pernah padam. Jerami cinta ini akan terus menghangatkan mimpi anak-anak didik kami selamanya.

