TOPENG SENYUM SANG JUARA

Oleh: Maria Julianti Niga, S.Pd

Dia datang dengan tawa paling nyaring,
menyapa pagi tanpa tampak gentar sedikit pun.
Langkahnya ringan, wajahnya berseri,
seolah dunia selalu berpihak padanya hari ini.

Tak ada yang tahu,
di balik senyum yang begitu rapi itu,
ada rumah yang tak lagi utuh,
ada hati kecil yang belajar kuat terlalu cepat.

Di kelas dia duduk paling depan,
mencatat mimpi dengan tekun dan sabar.
Namanya sering dipanggil saat upacara,
piagam-piagam menjadi saksi kerja kerasnya.

Guru memuji, teman mengagumi,
“Anak itu hebat sekali,” kata mereka.
Tak ada yang menyangka,
dia berlari bukan hanya menuju juara,
tetapi juga menjauh dari luka keluarga.

Malam-malamnya panjang dan sunyi,
dia belajar ditemani sepi.
Bukan karena ingin sekadar unggul,
tetapi agar dunia tahu dia tak runtuh.

Dia memilih ceria sebagai kekuatan,
memilih prestasi sebagai pembuktian.
Bahwa meski keluarganya pernah retak,
mimpinya tak pernah goyah apalagi rusak.

Anak dari keluarga yang berpisah itu tersenyum terang,
meski hatinya pernah berperang.
Dia menjahit retak menjadi tekad,
menyulap sedih menjadi semangat.

Dan saat namanya kembali diumumkan sebagai juara,
dia hanya menunduk penuh doa
Terima kasih, Tuhan,
aku mungkin lahir dari kisah yang tak sempurna,
namun Engkau ajarkanku menjadi luar biasa.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *