Oleh: Brigita Apolinaria Seonung
Ada sebuah pagi yang tak akan pernah aku lupakan. Pagi yang sederhana, tak ada upacara, tak ada pengumuman penting, hanya deretan kursi dan meja yang sudah lama menemaniku, dan suara langkah murid-muridku yang berlarian masuk kelas dengan cerita masing-masing. Namun entah mengapa, pagi itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang mengetuk lembut di dalam dadaku.
Seorang murid yang biasanya pendiam duduk paling ujung datang lebih awal. Tatapannya sayu, seolah ada beban yang tak sanggup ia ceritakan dengan kata-kata. Saat aku menghampirinya, ia hanya berkata pelan, “Bu, saya boleh duduk dekat Ibu hari ini?”
Pertanyaan sederhana itu menghentikan langkahku.
Dalam detik itu aku kembali disadarkan: seorang guru bukan hanya tempat bertanya tentang pelajaran, tetapi tempat kembali ketika dunia terasa menekan.
Aku mengangguk, memberi senyum kecil, dan ia duduk di samping meja guru tanpa berkata banyak. Tidak ada konsultasi akademis. Tidak ada keluhan panjang. Hanya kehadiran yang ia butuhkan dan aku belajar bahwa kadang, menjadi guru berarti menjadi tempat bernaung dalam diam.
Hari itu mengalir seperti biasa: menjelaskan materi, mendengarkan murid bercerita, sesekali menertawakan hal-hal kecil. Namun ada momen-momen yang hampir tidak terlihat yang menggoreskan sesuatu di hatiku. Saat pelajaran selesai, murid itu menatapku dan berkata lirih, “Bu, terima kasih. Hari ini saya merasa tidak sendiri.”
Aku terdiam.
Sesederhana itu.
Dan sesederhana itu pulalah alasanku bertahan hingga hari ini.
Menjadi guru membuatku menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu terlihat dalam angka di rapor, bukan juga dalam nilai ujian. Keberhasilan terkadang hadir dalam bentuk yang sangat kecil begitu kecil hingga nyaris terlewat: sebuah senyum yang kembali muncul, sebuah keberanian yang mulai tumbuh, atau seorang murid yang perlahan percaya bahwa ia berharga.
Dalam perjalanan ini, aku menangis dalam hati lebih sering daripada yang kukira. Bukan karena lelah, meskipun itu sering datang, tetapi karena bangga melihat bagaimana murid-muridku bertahan, bangkit, dan mencoba lagi meski hidup tidak selalu mudah bagi mereka.
Aku pun sering tersadar bahwa mereka bukan hanya belajar dariku aku juga belajar dari mereka. Belajar memaafkan, belajar memahami, belajar menerima bahwa setiap anak adalah dunia yang berbeda dan perlu disentuh dengan cara yang berbeda pula.
Dan setiap kali aku merasa tidak cukup baik sebagai guru, selalu ada sesuatu yang kembali menguatkanku: sebuah surat kecil di bawah meja, sebuah sapaan yang tulus, atau sekadar lambaian tangan sambil berkata,
“Bu, besok saya mau belajar lebih keras.”
Di momen seperti itulah aku menangis sendiri, diam-diam menyadari bahwa profesi ini, betapa pun melelahkan, adalah hadiah yang luar biasa.
Hari Guru bagiku bukan tentang seremoni, bukan tentang ucapan, bukan tentang bunga.
Hari Guru adalah tentang merenungkan kembali betapa dalamnya hubungan yang tercipta di ruang kelas itu.
Tentang jejak-jejak kecil yang kutinggalkan, dan jejak-jejak murid yang justru membentukku menjadi manusia yang lebih lembut.
Tentang jejak-jejak kecil yang kutinggalkan, dan jejak-jejak murid yang justru membentukku menjadi manusia yang lebih lembut.
Dan hari ini, dalam keheningan doa, aku berkata pada diriku sendiri: Teruslah menjadi guru, meski langkahmu perlahan. Teruslah hadir, meski tidak selalu dilihat. Teruslah menyalakan cahaya, meski kadang nyalanya redup.
Karena bagi seorang murid, mungkin cahaya kecil itu cukup untuk membuatnya menemukan jalannya.
Selamat Hari Guru Nasional.
Untuk semua guru yang mencintai dalam diam, yang bertahan dalam sunyi, dan yang memberi tanpa henti termasuk diriku sendiri.

